News

Azis Guru MAN 4 Sleman Sampaikan Ide Brillian di Forum Pembauran Kebangsaan  Sleman

Berbagai daya tarik yang dimiliki Kabupaten Sleman seperti tempat wisata hingga kampus ternama mengundang banyak orang untuk datang, belajar, tinggal hingga bekerja.  Keadaan tersebut menyebabkan terjadinya pembauran antara warga asli dan para pendatang yang berasal dari berbagai kalangan, suku, agama, pendidikan, hingga ekonomi. Terjadilah keberagaman di masyarakat.  “Jadikan keberagaman mendatangkan keindahan dan kebahagiaan bagi sesama.  Kita jaga dan kita rawat negara yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa,” pesan Heri Sutopo Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sleman pada acara Saresehan Pembauran Kebangsaan pada Kamis (16/2/2023) di RM Puri Mataram Siti Hinggil Drono Sleman.

Kegiatan yang bertema “Melalui Pembauran Kita Wujudkan Kabupaten Seman sebagai Rumah Bersama untuk Menjaga Kesatuan dan Persatuan Bangsa” itu dihadiri berbagai lapisan masyarakat, suku, etnik,  dari berbagai provinsi Sabang smpai Merauke.  Dalam kegiatan tersebut dilakukan diskusi untuk mendapatkan langkah-langkah strategis maupun solusi untuk meminimalisir terjadinya pergesekan.  Solusi tersebut akan disampaikan kepada bupati Sleman.

Nara sumber Prof Suyanto, Rektor Universitas Amikom Yogyakarta menuturkan terkait pembauran yang terjadi di perguruan tinggi.  Ia menuturkan bahwa cerita suatu film terinsirasi oleh konflik yang ada di cerita rakyat.  “Cerita konflik tersebut kemudian dijadikan alur film, menjadi cerita yang menyenangkan dan penuh perdamaian,” tegasnya.  Tim kreatif dari kampusnya telah memproduksi berbagai film isnpirtatif untuk menumbuhkan  perdamaian dalam keberagaman.

Sementara, Muhammad Nur Kholis M.Sc ketua Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Sleman menegaskan, “Indonesia disebut dengan negara kesatuan dan bukan negara persatuan sebab Indonesia merupakan kesatuan dari berbagai suku dan bangsa.”   

Salah satu peserta Nur Wahyudin Al-Azis,M.Pd Guru MAN 4 Sleman mengusulkan, pentingnya penanaman pembauran kepada generasi muda bukan dengan doktrinasi, tetapi dengan langkah-langkah yang benar-benar membekas pada diri anak.  “Diberikan pelatihan atau doktrinasi kurang efektif, tetapi bisa dengan berbagai lomba seperti pembuatan film pembauran,” tegasnya.  Logikanya, ketika sekelompok remaja mempersiapkan lomba, meraka akan berupaya mencari berbagai sumber untuk memahami makna dan pentingnya pembauran.  Apalagi bila hadiah yang disediakan cukup menggiurkan.  Usulan Azis mendapat apresiasi dari peserta Forum Pembauran Kebangsaan dan nantinya akan dilakukan diskusi lanjutan untuk mewujudkan langkah-langkah nyata.

Gandung Hartono Ketua I, menegaskan FPK akan melakukan langkah dengan ngaruhke setiap kelompok mahasiswa setiap provinsi.  FPK yang didasarkan atas suku, ras dan etnik itu menargetkan adanya deklarasi damai pembauran mahasiswa dari berbagai provinsi dari Sabang sampai Merauke.  (eds)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


The reCAPTCHA verification period has expired. Please reload the page.

Back to top button