Article

Mengaktifkan Peserta Didik dengan Text Narrative Acak

Pembelajaran Aktif

Salah satu kompetensi pembelajaran Bahasa Inggris kelas 10 adalah peserta didik dapat menangkap makna atau memahami teks narrative.  Jenis-jenis teks narrative berupa cerita dongeng, mitos ataupun legenda, yang biasanya terdiri beberapa paragraf panjang.   Tujuan pembelajaran menurut kompetensi dasar (KD) 4.8. adalah peserta didik dapat menangkap makna secara kontekstual terkait fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks naratif, lisan dan tulis sederhana terkait legenda rakyat.  Teks narrative seperti legenda rakyat memiliki struktur orientation, complication, resolution dan diakhiri reorientation.  Baru melihat naskah teks yang panjang, peserta didik sering kelihatan malas sehingga kurang termotivasi untuk membacanya.  Realitas menunjukkan peserta didik pun cenderung pasif.  Tidak semua peserta didik suka membaca teks narrative, terlebih jika dalam teks tersebut dijumpai banyak kata baru atau frasa sulit.  Kondisi ini bisa menyebabkan keengganan peserta didik membaca, berinteraksi dengan bahan dan sumber belajar.

Melihat fenomena seperti ini maka perlu dilakukan tindakan khusus agar peserta didik menjadi aktif dalam pembelajaran.   Penulis mencoba menerapkan pembelajaran narrative dengan teks acak di MAN 4 Sleman.   Konsep pembelajaran dengan teks acak diambil dari buku Strategi Pembelajaran Aktif di Perguruan Tinggi yang ditulis Hisyam Zaini dan Sekar Ayu Aryani.   Pembelajaran dengan teks acak dijadikan skenario agar teks narrative yang panjang dibuat seolah-olah menjadi pendek dengan memotong-motong per paragraph.  Ini sebuah upaya agar teks panjang tersebut dirasa pendek oleh peserta didik.   Langkah pembelajaran dengan teks acak (Hisyam dan Sekar Ayu : 2006) sebagai berikut ini.  Pertama, pilih bacaan yang akan disampaikan.  Kedua, potong bacaan tersebut menjadi beberapa bagian.  Potongan bisa dilakukan per-kalimat, atau per-dua kata.  Ketiga,  bagi kelas dalam beberapa kelompok kecil. Keempat, beri setiap kelompok satu bacaan utuh yang sudah dipotong-potong.  Kelima, tugas peserta didik dalam kelompok adalah menyusun bacaan sehingga dapat dibaca dengan urut.  Keenam, pelajari teks bacaan bersama dengan peserta didik dengan cara yang dikehendaki.   Bacaan yang dipotong-potong adalah teks narrative legenda rakyat yang diambil dari buku paket atau sumber belajar lain.   Setelah setiap kelompok menyelesaikan tugasnya, maka wajib mempresentasikan hasil kerja.  Sebelum pertemuan, kelas diberitahu bahwa setiap peserta didik harus membawa perangkat pembelajaran lengkap seperti kamus yang bisa dipinjam dari perpustakaan maupun yang digital terinstall di ponsel.

Saat peserta didik bekerja dalam kelompok, mereka akan terlihat aktif mengurutkan potongan-potongan kertas.  Ada yang membaca per potongan kertas, terlihat peserta didik membuka kamus, ada yang berupaya untuk menulis untuk mengetahui jalan cerita.   Ada pula peserta didik yang menghubungi guru dan menanyakan makna suatu kata atau suatu frasa dalam Bahasa Inggris.  Guru pun menjawab dan menjelaskan apa yang ditanyakan peserta didik.   Oleh guru, peserta didik yang bertanya tersebut diminta untuk menjelaskan kepada teman dalam satu kelompok.  Guru dapat berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran.  Dengan situasi seperti ini maka kelas terlihat aktif, setiap kelompok saling berbagi tugas dan semua bekerja, meski tidak dipungkiri ada saja yang berulah.  Tugas guru salah satunya mengingatkan peserta didik pasif agar lebih aktif berpartisipasi dalam kelompok.

Keaktifan peserta didik ini juga menumbuhkan keingintahuan (curiosity) sehingga mayoritas peserta didik melakukan kegiatan.    Artinya potongan teks acak “memaksa” peserta didik bekerja sesuai dengan tugas dalam kelompoknya, melakukan interaksi dengan bahan ajar dan berupaya mencari sumber belajar.   Makna pembelajaran menurut Siti Aminah (2020 : 46), adalah interaksi yang terjadi antara peserta didik dengan pendidik  dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar tertentu yang berlangsung  dalam situasi edukatif  untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan.

Semakin banyak banyak interaksi dilakukan oleh peserta didik, maka akan lebih banyak materi yang bisa diserapnya.  Menurut Win Wenger,Ph.D (2003: 28) dalam bukunya Beyond Teaching and Learning, menyatakan bahwa murid atau peserta didik sebagai pembelajar/learners lebih banyak belajar dari apa yang mereka katakan atau lakukan dari pada apa yang dikatakan (orang lain) kepada dan atau dilakukan (orang lain) atas mereka.  Materi pembelajaran akan lebih mudah diingat apabila peserta didik (pembelajar) mengatakan dan melakukannya serta mengalaminya.  Dalam skenario pembelajaran teks acak tersebut, peserta didik mengatakan saat mendiskusikan, melakukan dan mengalaminya.  Dengan potongan-potongan teks acak tersebut, peserta didik melakukan penerjemahan, mendiskusikan, berupaya memahami, mengurutkan hingga mempresentasikan hasil kerja kelompok.  Peserta didik bukan lagi sebagai orang yang pasif mendengar atau menerima penjelasan akan tetapi menjadi pelaku aktif bahkan mengkomunikasikan dengan guru atau sumber belajar seperti kamus.

Dalam pembelajaran, seluruh peserta didik bukan dijadikan ojek yang pasif menerima semata.  Sebaliknya peserta didiklah yang dijadikan subyek melakukan pembelajaran, karena fungsi guru adalah menciptakan situasi agar murid secara aktif belajar.  Melalui penerapan teks acak ini, para peserta didik juga belajar kerja sama dalam satu kelompok, saling menghargai serta tanggung jawab terhadap tugas masing-masing.  Terjadi pula persaingan sehat antar kelompok dan kondisi tersebut cukup baik untuk memacu semangat.  Dengan demikian, metode ini juga dapat dimanfaatkan untuk penguatan pendidikan karakter.   Mayoritas peserta didik pun terlihat merasa senang dengan proses pembelajaran yang tidak membosankan karena ada banyak tantangan yang diberikan.

Dari perbandingan antara sebelum dan sesudah penerapan metode ini, perolehan nilai peserta didik sesudah penerapan teks acak jauh lebih baik dibandingkan dengan ketika pembelajaran dengan grammar translation method yang penulis terapkan sebelumnya.  Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa pembelajaran narrative dengan metode teks acak dapat mengaktifkan peserta didik dalam pembelajaran, meningkatkan partisipasi serta peningkatan nilai nilai akademik.

Penulis Guru Bahasa Inggris MAN 4 Sleman

Daerah Istimewa Yogyakarta

Artikel ini pernah dimuat di Jawa Pos

Radar Semarang 29 Oktober 2020

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button