
Sleman – Suasana penuh hidmat di Lapangan Pemda Sleman Kamis (22/10/2026), saat lebih dari 1.200 jamaah mengikuti Sholat Istisqo atau Sholat dengan tujuan memohon turun hujan. Bertindak selaku khatib, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, KH. Mas’ud Masduki. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Perngatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.
Akhir-akhir ini masyarakat sedang menghadapi kekeringan panjang, cuaca ekstrem, dan krisis air, dan hal itu bukanlah sekadar fenomena alam biasa. “Bisa jadi, bumi yang gersang ini adalah cerminan dari hati kita yang mulai mengering dari zikir, gersang dari rasa kemanusiaan, dan dipenuhi oleh debu-debu kemaksiatan,” tegas Kiai Masduki.
Bagi orang yang beriman, situasi ini adalah sarana muhasabah atau introspeksi diri. Allah SWT sengaja menahan titisan air dari langit agar kita tersadar dari kelalaian.
KH Masduki mengingatkan pentingnya untuk bertobat dan memperbanyak Istigfar atau memohon ampunan. “Kesadaran spiritual dan memohon ampunan secara tulus kepada Allah SWT merupakan kunci utama dan ikhtiar batiniah agar Allah mengangkat cobaan kemarau panjang dan menurunkan hujan yang membawa berkah,” berkah tegasnya.
Taka kalah pentingnya, ditekankan pula sholat istisqo merupakan momentum muhasabah atau Introspeksi Diri. “Musibah kekeringan dan cuaca ekstrem yang sedang melanda dijadikan sebagai sarana merenung bagi umat manusia atas dosa-dosa atau kelalaian yang mungkin telah diperbuat,” pesan Pengasuh Pesantren Rabithah Krapyak, Wedomartani Ngemplak Sleman, yang begitu menyentuh.
Selain itu, penting pula untuk memperbaiki hubungan vertikal dan horizontal. “Tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Allah SWT (habluminallah), tetapi juga memperbaiki hubungan baik serta kepedulian sosial antar-sesama manusia (habluminannas) di tengah situasi sulit,” tegas Kyai Masduki. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)



