
Sleman (MAN 4 Sleman) – Tinggal di wilayah yang berada di lereng Gunung Merapi membuat masyarakat Sleman tidak bisa lepas dari potensi berbagai bencana alam. Mulai dari erupsi gunung berapi, gempa bumi, tanah longsor, banjir, hingga angin puting beliung dapat terjadi sewaktu-waktu. Karena itu, pengetahuan tentang mitigasi bencana menjadi bekal penting, terutama bagi generasi muda.
Kesadaran tersebut menjadi alasan MAN 4 Sleman menghadirkan Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman dalam rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Mata Muda) 2026, Jumat (17/7/2026). Bertempat di Aula 1 MAN 4 Sleman, Nur Cahyo Abdullah memberikan pembekalan kepada 180 murid baru mengenai pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Bencana memang tidak dapat diprediksi kapan akan terjadi. Namun, dampaknya dapat diminimalkan apabila masyarakat memiliki pengetahuan tentang mitigasi dan mengetahui langkah yang tepat untuk menyelamatkan diri,” ujar Nur Cahyo membuka paparannya.
Ia menjelaskan bahwa penanggulangan bencana di Kabupaten Sleman telah dilakukan sejak tahun 2003. Saat itu, penanganan kebencanaan masih menjadi bagian dari beberapa dinas teknis. Namun, setelah erupsi besar Gunung Merapi tahun 2010, Pemerintah Kabupaten Sleman membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) agar penanganan bencana dapat dilakukan secara lebih fokus, terencana, cepat, dan profesional.
Dalam pemaparannya, Nur Cahyo mengenalkan tiga jenis bencana sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan, yaitu bencana alam, bencana nonalam, dan bencana sosial.
Bencana alam meliputi gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, banjir, kekeringan, angin puting beliung, dan tanah longsor. Sementara itu, bencana nonalam mencakup kegagalan teknologi, wabah penyakit, hingga kecelakaan industri. Adapun bencana sosial merupakan bencana yang dipicu oleh ulah manusia, seperti konflik sosial, kerusuhan, maupun aksi terorisme.
Menurut Nur Cahyo, kunci utama dalam mengurangi risiko bencana adalah mitigasi, yaitu kemampuan mengenali potensi bahaya, memahami tanda-tanda awal bencana, serta mengetahui langkah penyelamatan diri sebelum, saat, dan setelah bencana terjadi.
“Data menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen korban selamat saat gempa bumi di Jepang mampu menyelamatkan diri secara mandiri karena memiliki pengetahuan mitigasi yang baik. Fakta ini menunjukkan bahwa edukasi kebencanaan benar-benar dapat menyelamatkan nyawa,” jelasnya.
Selama sesi berlangsung, para peserta mendapatkan penjelasan mengenai berbagai tanda-tanda awal bencana, mulai dari gempa bumi, erupsi Gunung Merapi, tanah longsor, cuaca ekstrem, angin puting beliung, hingga bahaya sambaran petir. Tidak hanya teori, para siswa juga dibekali langkah-langkah praktis yang harus dilakukan agar dapat melindungi diri dan membantu orang lain ketika menghadapi situasi darurat.
Suasana penyampaian materi berlangsung interaktif. Para murid tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan seputar kebencanaan, khususnya mengenai prosedur evakuasi ketika terjadi erupsi Gunung Merapi maupun gempa bumi yang sewaktu-waktu dapat terjadi di wilayah DIY.
Melalui kegiatan ini, MAN 4 Sleman berharap para murid baru memiliki kesadaran bahwa kesiapsiagaan terhadap bencana merupakan bagian dari keterampilan hidup yang harus dimiliki setiap warga, terutama mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Edukasi mitigasi bencana tidak hanya bertujuan melindungi diri sendiri, tetapi juga menumbuhkan kepedulian, kesiapsiagaan, dan semangat gotong royong dalam membantu sesama ketika menghadapi kondisi darurat. Dengan bekal pengetahuan tersebut, para murid diharapkan mampu menjadi generasi yang tangguh, sigap, dan berperan aktif dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan sekolah maupun masyarakat. (eds)



