
Sleman – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan tiga guru MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf,M.A.,M.Si Dzhulhaq Nurhadi,S.Th.I.,M.Pd.I dan Edy Suparyanto,M.A. di kancah internasional. Mereka berhasil meraih medali perak dalam sebuah kompetisi inovasi pendidikan dan teknologi asistif yang digelar secara daring, berkat karya mereka berupa e-book Khotbah Jumat yang ramah penyandang tunanetra. Kompetisi ini diselenggarakan Indonesia Young Scientist Association (IYSA), yang secara serentak mengadakan International Research Teacher Competition (IRTC), National Research Teacher Competition (NRTC), International Science & Invention Fair (ISIF), dan National Science & Invention Fair.
Inovasi tersebut berawal dari keprihatinan terhadap keterbatasan akses informasi keagamaan bagi penyandang gangguan penglihatan. Meskipun teknologi pembaca layar seperti TalkBack sudah lazim digunakan, dokumen digital dengan tata letak kompleks, tabel, gambar dekoratif, serta font yang tidak kompatibel masih menjadi hambatan besar.
“Kami ingin memastikan bahwa teman-teman tunanetra, termasuk para khatib Salat Jumat, dapat mengakses materi dakwah secara mandiri dan setara,” ujar Ahmad Arif, Senin (12/9/2026) di ruang kerjanya. Presentasi dan tanya jawab dalam Bahasa Inggris dengan dewan yuri dilaksanakan Rabu (7/10/2026), sementara hasilnya diumumkan Jum’at (9/10/2026).
Menggunakan pendekatan Riset dan Pengembangan (R&D), ketiga guru tersebut merancang e-book dengan prinsip aksesibilitas ketat: tata letak satu kolom, tanpa tabel dan gambar dekoratif, struktur judul semantik, navigasi yang ramah pembaca layar, serta pemilihan font yang tepat. Untuk teks Latin digunakan Arial, sementara untuk teks Arab dipilih KPGQPC Uthman Taha Naskh.
Uji coba melibatkan 30 responden tunanetra yang tergabung dalam Brillian Study Club. Hasilnya sangat menggembirakan: 96,7% responden lebih menyukai format satu kolom, 100% merasa teks non-tabel lebih mudah dinavigasi, 93,3% memilih dokumen tanpa gambar yang tidak dapat diakses, 90% menilai Arial sangat cocok untuk pembaca layar, dan 86,7% lebih memilih font KPGQPC Uthman Taha Naskh untuk teks Arab. Prototipe akhir pun meraih skor kelayakan keseluruhan 93,4% atau kategori sangat layak.
Kompetisi internasional ini menilai seberapa besar inovasi tersebut mampu menjawab tantangan inklusi digital, khususnya di bidang Dakwah Islam. Dewan juri menilai karya ini tidak hanya unggul secara teknis, tetapi juga memiliki dampak sosial yang nyata.
“Inovasi ini membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk komunikasi Islam yang inklusif. Kami berharap e-book ini dapat diperluas ke berbagai materi keagamaan lainnya,” tambah salah satu guru, Dzulhaq Nurhadi.
Dengan prestasi ini, ketiga guru tersebut berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk mengembangkan accessible digital contents, sehingga penyandang tunanetra dapat berpartisipasi penuh dalam kegiatan keagamaan, pendidikan, dan kehidupan sosial secara mandiri. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




