News

Hadirkan Polsek Pakem, MAN 4 Sleman Berikan Bimbingan Siswa Menjadi Pinter Berkarakter

Sleman – Remaja dan pemuda adalah generasi penerus bangsa.  Di tangan kaum muda akan dipegang estafet kepemimpinan dan masa depan bangsa, sehingga para pemuda memiliki peran penting.  “Namun di media kita jumpai berbagai berita oknum remaja terlibat kasus yang memprihatinkan seperti tawuran, kriminalitas, bahkan narkoba.  Ada sebab dan akibat dan harus kita tanggulangi,” kata Iptu Juwanto Edy Santosa nara sumber dari Kepolisian Sektor (Polsek) Kapanewon Pakem di depan 193 siswa baru peserta  MATSAMA, Selasa (15/7/2025) di aula 1 MAN 4 Sleman.  Tema yang diangkat dalam pembinaan tersebut adalah menjadi remaja pinter berkarakter.

Kenakalan remaja adalah semua perilaku menyimpang dari norma-norma hukum. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Para ahli pendidikan sependapat, remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun.  Pada usia tersebut, seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada masa transisi.  Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.

Juwanto menegaskan, kenakalan disebabkan oleh faktor eksternal dan internal.  Faktor internal, yakni disebabkan krisis identitas. Perubahan biologis dan sosiologis diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi.  Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya.  Kedua, tercapainya identitas peran.  Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

Kontrol diri yang lemah.  Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku ‘nakal’.  Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

Sementara faktor eksternal meliputi keluarga, pengaruh kawan sepermainan, komunitas / lingkungan tinggal yang kurang baik.  Kejadian di rumah, perceraian orang tua, kurangnya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja.  Pendidikan yang salah di keluarga, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

Juwanto berpesan agar para remaja mendapatkan banyak figur atau orang sukses yang telah berhasil memperbaiki diri.  Lingkungan keluarga, guru, teman sebaya juga memiliki peran dalam membentuk budi pekerti remaja.  Dibutuhkan kenyaman bagi anak dalam keluarga, sehingga orang tua harus menciptakan kondisi yang aman dan nyaman rukun selalu.

“Remaja harus bisa memilih teman dan lingkungan yang sesuai, memilah dan memilih, dalam pertemanan di suatu komunitas,” tegasnya.  Membangun komunikasi yang baik dengan orang tua, saudara serta lingkungan sangat penting untuk dilakukan.  (eds)

Show More

Related Articles

Back to top button
-->