News

Dampingi Anak Saat Menggunakan Gawai

Orang Tua Sebagai Pendamping Terbaik

Sleman – Laju teknologi informasi berkembang pesat, tak bisa dipungkiri. Informasi sangat cepat tanpa batas, media sosial (medsos) menjadi ruang ekspresi sekaligus tekanan.  “Gadget atau gawai bukan sekadar alat, tetapi bagian kehidupan sehari-hari, seolah kita tak bisa lepas dari gawai,” ujar Aprilia Setyowati,M.Pd Dosen Bimbingan Konseling (BK) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta di depan orang tua dan wali murid Kelas XI MAN 4 Sleman, Sabtu (24/1/2026).  Maka dibutuhkan pendampingan orang tua / wali murid, saat anak bergawai karena remaja hari ini hidup di dunia yang jauh berbeda dengan masa dulu, sehingga butuh pendampingan, pesannya.  “Jika pendampingan orang tua kurang tepat, maka teknologi yang seharusnya menjadi peluang justru berubah menjadi risiko,” tambahnya.

Sementara anak yang kehilangan atau tanpa ayah atau  Fatherlessness menjadi perhatian mengingat peran ayah diakui penting dalam perkembangan anak pada aspek, fisik, emosional maupun sosial, lanjutnya.  Fatherless tidak selalu berarti tanpa ayah secara fisik, tetapi tanpa kehadiran emosional.  Aprilia menyampaikan Parenting Digital, dengan menekankan penguatan karakter dan prestasi remaja, dengan beberapa langkah.

Pertama, orang tua membangun komunikasi yang hangat dan terbuka, mendengarkan anak tanpa menghakimi, menjadikan rumah sebagai tempat paling aman untuk bercerita, serta mengurangi ceramah, dengan memperbanyak dialog.

Kedua, menetapkan aturan digital yang jelas dan disepakati terkait waktu penggunaan gadget, konten yang boleh dan tidak boleh, serta konsekuensi yang konsisten.  Ketiga,  pentingnya menanamkan nilai dan karakter sejak di rumah.  Karakter utama yang perlu dikuatkan adalah tanggung jawab, disiplin, kejujuran, kontrol diri, dan nilai-nilai religious.

Dosen BK itu menegaskan, parenting digital juga bertujuan mendorong prestasi remaja dengan beberapa langkah.  Pertama, mendampingi proses bukan hanya menuntut hasil dengan mengapresiasi usaha anak, menghargai proses belajar, dan jangan membandingkan dengan anak lain.  Kedua, mengarahkan penggunaan teknologi untuk hal produktif, menggunakan gadget untuk: belajar online, kajian keislaman, konten edukatif, dan pengembangan bakat.

Ketiga, orang tua perlu mengajarkan manajemen waktu dan tujuan hidup, membantu anak membuat jadwal seimbang, mendiskusikan cita-cita dan mimpi, mengaitkan prestasi dengan nilai ibadah dan masa depan.  “Gadget bisa jadi musuh, tapi juga bisa jadi sahabat, tergantung pendampingannya,” tegasnya.

Di akhir paparannya, ia memberikan refleksi, “Anak-anak kita tidak membutuhkan orang tua yang sempurna,
tetapi orang tua yang hadir, peduli, dan mau belajar bersama.”

“Mari kita menjadi orang tua yang melek digital, orang tua yang kuat nilai, orang tua yang membersamai, bukan menghakimi.  Semoga dengan pendampingan yang tepat, putra-putri bapak/ibu tumbuh menjadi remaja MAN 4 Sleman yang mandiri, berkarakter, dan berprestasi, serta diridai Allah SWT,” pungkasnya.

(eds)

Show More

Related Articles

Back to top button
-->