
Sleman — Suasana khidmat menyelimuti lapangan upacara MAN 4 Sleman Senin pagi (3/8/3036), Seluruh peserta didik, dewan guru, dan pegawai berkumpul dengan tertib mengenakan seragam terbaik. Bertindak sebagai pembina apel, Safitri Ida Kusumastuti, S.Sos. , Wakil Kepala Bidang (Wakabid) Akademik, memimpin jalannya upacara dengan penuh wibawa.
Pada apel tersebut, Safitri membacakan Pesan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam rangka Peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2026.
“Masa Depan Yogyakarta Ada di Pundak Kalian” Pesan Gubernur yang bertajuk tema istimewa dalam bahasa Jawa, “Hamemangun Hambeg Patraping Siwi Mahanani Raharjaning Nagari” — yang berarti menanamkan sikap dan perilaku sejak dini untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa — mengalir seperti wejangan seorang ayah kepada anak-anaknya.
“Ananda sekalian, sadarilah bahwa masa depan Yogyakarta yang Istimewa menuju Indonesia Emas ada di pundak kita saat ini. Hari ini adalah panggung bagi kita untuk memperdengarkan suara, merayakan hak, dan meneguhkan komitmen sebagai motor perubahan bangsa.”
Karakter Kuat, Kompas Moral yang Tak Tergantikan
Dalam amanatnya, Sultan HB X mengingatkan bahwa kejujuran, kedisiplinan, rasa hormat, dan empati bukan sekadar kata-kata manis di papan tulis. “Apa yang ditanam dalam diri kita sejak kecil adalah pondasi yang membentuk kita hari ini dan di masa depan,” kutip Ibu Safitri melanjutkan. Ia menekankan karakter kuat adalah kompas moral saat generasi muda menghadapi dinamika kehidupan nyata. Di tengah arus informasi yang deras dan pergaulan yang makin kompleks, karakter itulah yang akan menjadi penuntun.
Setara Tanpa Kekerasan, Rajut Perbedaan dalam Harmoni
Salah satu pesan yang paling menyentak adalah ajakan untuk menghentikan perundungan. Gubernur dengan tegas mengajak seluruh anak-anak Yogyakarta untuk menyuarakan gerakan “Setara Tanpa Kekerasan.”
“Perbedaan suku, agama, dan latar belakang adalah hal biasa,” tegas Gubernur. “Yang membuat kita luar biasa adalah ketika kita merajut perbedaan itu dalam harmoni. Kekuatan sejati bukan untuk menindas, melainkan untuk merangkul.”
Bijak di Dunia Maya dan Nyata
Tidak ketinggalan, Gubernur juga menyoroti tantangan zaman: dunia digital. Dalam pesannya, beliau mengingatkan pentingnya prinsip “Saring Sebelum Sharing” dan mengajak generasi muda menjadi pengguna internet yang bijak, cerdas, dan bertanggung jawab. “Jadilah generasi yang tetap #AmandiRuangDaring,” serunya.
Sekolah, lanjut Gubernur, bukan lagi sekadar tempat mengejar nilai. Ia adalah laboratorium kehidupan—tempat belajar, bereksplorasi, dan menggali potensi tanpa batas. Ketika sekolah terasa aman, nyaman, dan suportif, maka tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan mimpi anak-anak untuk melaju setinggi langit.
Tolak Narkoba, Raih Prestasi
Pesan yang tak kalah penting, peringatan keras terhadap bahaya narkoba, rokok, dan zat adiktif lainnya. Gubernur mengajak seluruh peserta didik menjadi “Sahabat Baik Anti NAPZA” dan membuktikan bahwa generasi “Bersinar” (Bersih Narkoba) jauh lebih keren karena karya dan prestasi, bukan karena pelarian sesaat.
“Jangan pernah menggadaikan masa depan yang gemilang hanya demi pelarian sesaat,” tegas amanat tersebut. “Biarkan diri kita matang secara mental, fisik, dan finansial.”
Menutup amanatnya, Safitri kembali membacakan kalimat penuh semangat, “Mari kita saling melindungi, menjaga integritas, serta menghindari dari hal-hal negatif. Tunjukkan bahwa remaja Daerah Istimewa Yogyakarta adalah generasi yang berkarakter kuat, berdaya saing global, serta siap membawa DIY dan Indonesia ke puncak kejayaannya.”
Upacara pun ditutup dengan doa dan pembubaran barisan. Semangat yang tertanam dari pesan Gubernur seakan masih menyelimuti setiap langkah anak-anak yang meninggalkan lapangan. Wajah-wajah tampak berseri, membawa pulang bukan sekadar amanat, tetapi juga panggilan jiwa untuk menjadi generasi emas yang sesungguhnya. (eds)



