
Sleman – Paham radikalisme sudah merambah pada anak, remaja, bahkan wanita. “Data menunjukkan 110 anak berusia 10 hingga 18 tahun dari 23 provinsi, telah teridentifikasi radikalisme, dan direkrut oleh jaringan terorisme. Ini fenomena yang perlu diwaspadai bersama,” ujar Kepala Satgaswil Densus 88 Anti Terror DIY, AKBP Johanes Budi Moses Harahap, S.I.K. di depan peserta Seminar Pencegahan Ekstrimisme, Radikalisme dan Terorisme, pada Rabu (26/11/2025) di Merbabu Meeting Room Hotel Prima Sleman.
Seminar dengan tema Penanggulangan Anak Terpapar Radikalisme di Kabupaten Sleman itu diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kebangpol) Kabupaten Sleman. Kegiatan diikuti 52 kepala / perwakilan sekolah SMA/MA dan SMP/MTs se- Sleman, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Dinas Sosial, Balai Pendidikan Menengah, Kementerian Agama, Koordinator Wilayah Sleman Badan Intelijen Negara DIY, Satuan Intelijen dan Keamanan Polresta Sleman, Perwira Seksi Intelijen Kodim 0732/ Sleman, Seksi Intelijen Kejaksaan, dan undangan lainnya.
Johanes menegaskan, dari 110 anak tersebut masuk di grup-grup jejaring sosial terkait dengan addictive menonton film-film atau tayangan kekerasan dan sadisme. Fenomena perekrutan radikalisme dilakukan melalui medsos seperti platform Game Online ROBLOK . “Maka guru dan orang tua harus benar-banar waspada terhadap fenomena ini, jangan sampai anak-anak kita terpapar ekstrimisme dan radikalisme,” tegasnya. Johanes dan timnya berharap bisa menyampaikan paparan perlunya mewaspadai paparan radialisme pada anak kepada orang tua murid, dan guru.
Paparan radikalisme, intoleran, ekstrimisme, dan terorisme harus ditanggulangi sejak dini, salah satunya dengan “vaksin” yang sudah kita kenal yakni Bhineka Tunggal Ika. “Ajarkan perbedaan sejak dini pada anak, pergaulan luas, anak tidak berada di lingkungan eksklusif. Ajarilah anak-anak untuk berpikir terbuka atau inklusif,” ujar Dosen Universitas Gadjah Mada, Diasma Sandi Swandaru, nara sumber kedua yang menyampaikan materi “Kolaborasi Multisektor sebagai Model Penanggulangan Radikalisasi Anak di Kabupaten Sleman.”
“Pancasila mengajarkan kepada kita untuk berpikir inklusif dan berpikir Bhineka Tunggal Ika, seperti yang sudah diajarkan nenek moyang. Toleransi sudah diajarkan nenek moyang kita,” tegas Sandi Swandaru. Dari pengalaman Sandi menangani anak-anak terpapar radikalisme, didapatkan bahwa sasaran rekrutmen ekstrimisme dan radikalisme adalah anak-anak yang cerdas dan pintar ilmu-ilmu eksakta. Anak-anak cerdas tersebut harus dijaga dan diawasi agar tidak terpapar radikalisme dan ekstrimisme, tegasnya.
Perlu diwaspadai pula anak-anak introvert, tertutup, dan tak banyak bicara, tak punya banyak teman, juga menjadi sasaran recruitment, imbuhnya. Anak-anak yang tidak direkrut biasanya adalah mereka yang celelekan , suka melucu, dan banyak bicara.
Pengakuan terhadap eksistensi anak harus ditonjolkan. “Beri kesempatan pada anak untuk kerja kelompok lintas suku, lintas agama, lintas budaya, hingga memiliki pengalaman bergaul dengan berbagai latar belakang yang berbeda. Karena anak-anak berpikiran terbuka,” pungkasnya.
Sementara Kepala Badan Kesbangpol Sleman, Bagus Jalu Anggara menegaskan paparan radikalisme pada anak sudah menjadi ancaman nyata. Sekolah dan Lembaga Pendidikan menjadi fundamental dalam menangkal dan mengantisipasi paham paparan ekstrimisme dan radikalisme.
Demikian laporan sekilas keikutsertaan Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan saat mengikuti Seminar Pencegahan Ekstrimisme, Radikalisme dan Terorisme.
(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)
Berita ini juga dikirim ke Sembada Media Center Komdigi Kabupaten Sleman.



