News

MAN 4 Sleman Gelar Mujahadah Upaya Meraih Berkah

Sleman (MAN 4 Sleman) – Berbagai upaya sosialisasi telah dilakukan MAN 4 Sleman kepada masyarakat luas agar semakin banyak calon peserta didik mendaftarkan diri.  Sosialisasi dengan menggandeng kantor pos, silaturahmi ke pondok pesantren dan sekolah juga sudah dilakukan bahkan ke lembaga lintas sectoral.  Selain upaya lahir harus pula dilakukan upaya batin salah satunya dengan mengadakan mujahadah.  “Melalui majlis mujahadah ini kita memohon kepada Alloh SWT untuk memperoleh ridho serta banyak calon peserta didik yang mendaftar.  Kita juga mohon agar semua langkah kita diridhoi dan diberikan keberkahan untuk seluruh warga madrasah,” tutur Mohamad Yusuf,S.Ag kepala MAN 4 Sleman saat memberikan sambutannya pada mujahadah warga madrasah Jum’at (26/6) di aula madrasah setempat.

Mujahadah dipimpin KH Chozin Ghozali salah satu alumni MAN4 Sleman yang saat ini berdinas di Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY.  “Mohon dengan ikhlas dan kebeningan hati dalam mengikuti mujahadah ini.  Kita juga mendo’akan para syuhada’ dan orang-orang yang sudah berjasa mendirikan dan mengembangkan madrasah ini.  Kepada orang yang menyukai kita sentuh dengan lantunan Al-Faatihah, demikian juga orang yang berseberangan dengan kita.  Dari tidak suka nanti akan berbalik menjadi menyukai,” terang Ghozali kyai muda kharismatik yang kenyang pengalaman malang melintang berda’wah di Papua.  Lantunan do’a dan mujahadah dengan kesungguhan, dari dalam hati serta bening hati disertai ikhlas serta pasrah kepada Alloh berpengaruh besar terhadap keberhasilan permohonan.

Chozin Ghozali pun memaparkan pengalamannya selama mengibarkan panji Islam sejak 1994 di pedalam tanah Papua dengan penuh resiko dan tantangan.  Berbagai tantangan maupun tentangan dari masyarakat pedalaman pun pernah dihadapinya dengan penuh kesabaran.  Bekerja di pedalaman yang keras membutuhkan tekad kuat keberanian serta bekal keilmuan agama, kekuatan mental maupun kekuatan fisik, tidak pernah lepas dari amalan-amalan mujahadah.  “Saat saya belajar di madrasah ini, murid dibiasakan dengan ibadah setiap hari.  Untuk ilmu baca Qur’an dan seni Islam, atau kegiatan ektra kurikuler, madrasah ini mendatangkan pengampu profesional.  Untuk kesiapan fisik diajarkan pula bela diri pencak silat,” lanjut Ghozali seolah memutar kembali kenangan saat belajar di madrasah yang saat itu bernama PGAN Pakem dengan 8 kelas paralel. Bekal yang diperoleh di madrasah menjadikan salah satu modal untuk berdakwah di tanah Papua.

Bahkan Ghozali pernah menghadapi seorang separatis Papua merdeka dengan ujung senjata di dahinya, pemicu siap ditarik.  “Anda membunuh saya tidak ada artinya karena saya hanyalah seorang guru,” kenangnya sembari melantunkan do’a.  Tetiba senjata terjatuh dengan peluru mengenai tanah, personel separatis itu pun lari ketakutan tunggang langgang.   Itulah salah satu kekuatan do’a tegas Ghozali.   Ia juga menceritakan pengalaman inspiratifnya kepada seluruh peserta mujahadah.

Menurutnya, MANESA memiliki potensi yang baik untuk mempersiapkan generasi muda berkarakter.  Seluruh guru dan pegawai harus terus berupaya dan berjuang untuk prestasi dan prestise madrasah yang berlokasi di Pojok Harjobinangun Pakem Sleman ini, tandasnya.  Seluruh guru dan pegawai MAN 4 Sleman mengikuti mujahadah dengan khusu’ dan tawadhu’ dengan harapan memperoleh keberkahan untuk semua.  (eds)

 

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button