News

Wujudkan Madrasah Unggul MAN 4 Sleman Gelar Raker

Madrasahnya Orang TOPP

Sleman (MAN 4 Sleman) – Untuk memajukan madrasah diperlukan partisipasi seluruh warga berpa saran, gagasan, dan ide kreatif.  Ide dan gagasan harus untuk kemajuan dan inovasi yang dilakukan selama Rapat Kerja (Raker).  Raker menghasilkan dokumen EDM, RKAM, RKJM, dan RAPBM.  Dari Pembiayaan BOS akan lahir RKAKM dari BOS anggaran 2023.  Semua warga madrasah memiliki peran penting dalam penyusunan RAPBM. “Jangan sampai ada revisi BOS dan DIPA, karena hal itu akan mempengaruhi kinerja madrasah.  Maka diperlukan kerja keras dan peran aktif dari seluruh warga untuk meningkatkan kualitas menuju madrasah unggul,” tutur Mohamad Yusuf,S.Ag.,MPd kepala MAN 4 Sleman saat membuka Rapat Kerja (Raker) Penyusunan RKAKM MAN 4 Sleman tahun 2022/2023 Senin (21/02/2022). Semua memiliki peran dan semua menentukan, urainya.

Yusuf juga menegaskan bahwa setiap sekolah dan madrasah harus ramah anak.  “Seluruh sekolah dan madrasah se-DIY diwajibkan menjadi sekolah atau madrasah ramah anak.  Salah satunya sebagai upaya menurunkan adanya kenakalan anak-anak.  Maka anak-anak harus terus dipantau dan diopeni semestinya, dengan penuh kasih sayang,” tegas Yusuf.  Raker bertema “Membangun Kinerja dan Kekompakkan Menuju Madrasah Unggul” yang berlangsung Senin – Sabtu (21-26/02/2022) di aula MAN 4 Sleman.

Sebagai pembuka disampaikan motivasi dalam bentuk instropeksi dari Nur Wahyudin Al-Aziz,M.Pd.  Azis menegskan permasalahan MAN 4 Sleman beserta hal yang harus dilakukan untuk refleksi dan perrbaikan.  “Tidak mudah melihat kekurangan madrasah kita, karena kita berada di dalamnya. Permasalahan seperti belum adanya monitoring dan evaluasi, tidak maksimalnya komitmen, hingga tidak ada tindak lanjut,” paparnya.  Di sisi lain guru dan pegawai memiliki tanggung jawab penerima amanah dari orang tua peserta didik.  Tantangan guru saat ini adalah mengajar generasi Z dengan egoisme tinggi serta kecerdasan luar biasa, tegasnya.

Tantangan dan permasalahan dapat dijadikan sebagai peluang amal jariyah bagi seluruh guru dan pegawai.  Sementara banyak persoalan yang dihadapi peserta didik seperti tidak maksimalnya komunikasi antara orang tua dengan anak, hingga menimbulkan keosongan hati, hingga tak memiliki visi hidup.  Peserta didik harus memiliki visi hidup yang bisa menjadi motivasi internal.  Guru dan pegawai harus dekat  dengan anak, serta membangun trust.  “Ciptakan budaya unggul dengan mengajak siswa melihat masa depan dan mengenali pesaing, serta sampaikan hukum kausalitas,” pungkas Azis.  (eds)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Back to top button