
Sleman (MAN 4 Sleman) – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Gelombang 2 hari kedua di MAN 4 Sleman, Selasa (3/11/2026), menghadirkan cerita tersendiri dari para peserta. Pada hari kedua ini, sebanyak 195 murid kelas XII mengikuti ujian dengan mata uji Bahasa Inggris Wajib serta pengisian Survei Lingkungan Belajar (Sulingjar) yang dilaksanakan sesuai pembagian sesi di dua laboratorium komputer.
Di balik suasana ujian yang berlangsung tertib dan kondusif, terdapat pengalaman menarik dari para murid dalam menghadapi soal-soal Bahasa Inggris. Pengalaman tersebut disampaikan oleh Ummaira Djati Putri Pinayung dan Marizka Nurma Hidayah saat berbincang dengan salah satu guru Bahasa Inggris MAN 4 Sleman, Dwi Astuti Handayani, S.Pd.
Bagi Ummaira dan Marizka, TKA Bahasa Inggris bukan sekadar menjawab pertanyaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan memahami bacaan, menangkap maksud teks, serta menerapkan pemahaman bahasa dalam konteks yang beragam.
Keduanya mengungkapkan bahwa tantangan dalam mengerjakan soal tidak hanya terletak pada penguasaan kosakata, tetapi juga pada kemampuan memahami isi bacaan dan menentukan jawaban yang paling tepat. Ketelitian dalam membaca soal menjadi salah satu hal penting agar tidak keliru dalam menangkap maksud pertanyaan. “Awalnya sempat tegang menghadapi soal Bahasa Inggris, tetapi setelah mulai mengerjakan kami berusaha lebih tenang dan fokus. Semoga hasilnya sesuai dengan harapan kami,” ungkap Marizka.
Dwi Astuti Handayani, S.Pd., yang menerima cerita pengalaman kedua murid tersebut, menyampaikan bahwa pengalaman peserta dalam menghadapi TKA merupakan bagian penting dari proses pembelajaran. Menurutnya, TKA tidak semata-mata menjadi ajang memperoleh nilai, tetapi juga sarana bagi murid untuk mengenali kemampuan dan aspek yang masih perlu dikembangkan.
“Bahasa Inggris tidak cukup hanya dipelajari dengan menghafal kosakata atau rumus tata bahasa. Murid juga perlu membiasakan diri membaca, memahami konteks, menangkap informasi, dan berpikir kritis. Pengalaman menghadapi soal TKA ini dapat menjadi bahan refleksi bagi mereka untuk terus meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris,” ungkap Dwi.
Ia juga mengapresiasi semangat murid yang telah berusaha mengikuti setiap tahapan ujian dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, keberanian menghadapi tantangan, ketekunan dalam belajar, serta kejujuran dalam mengerjakan soal merupakan nilai penting yang perlu terus ditanamkan.
Cerita Ummaira dan Marizka menjadi gambaran bahwa pelaksanaan TKA tidak hanya menyisakan catatan tentang hasil ujian, tetapi juga pengalaman dan proses belajar yang bermakna. Melalui pengalaman tersebut, murid diharapkan semakin mengenali potensi dirinya, membangun kepercayaan diri, serta termotivasi untuk terus mengembangkan kompetensi akademik. (Tut)



