NewsNews

StayKool Gelar Pameran Foto Angkat Keresahan Melalui Seni Fotografi

Melalui Seni Ungkap Keresahan Hari

Sleman – Komunitas seni jalanan StayKool menghadirkan pameran pop-up bertajuk Dirty Look, Kool People sebagai ruang untuk melihat sisi lain kehidupan jalanan melalui karya fotografi dan medium urban yang autentik. Acara berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa (18–19/5/2026) di Kafe MITRA Jl. Seturan Raya 189 Ngropoh,Condongcatur Depok Sleman.  Pameran ini menjadi wadah bagi para seniman jalanan untuk menyuarakan keresahan sosial melalui karya yang lahir langsung dari ruang publik.

Pameran tersebut menampilkan berbagai karya dengan medium yang dekat dengan kehidupan jalanan, seperti plang jalan berkarat, papan skate usang, hingga benda-benda yang telah tergerus cuaca dan waktu. Seluruh karya diarsipkan dalam bentuk foto yang merekam aktivitas keseharian para seniman ketika berada di jalan.

StayKool menegaskan bahwa pemilihan medium tersebut bukan tanpa alasan. Komunitas itu lahir dari kultur seni jalanan yang tumbuh organik di ruang publik.  Karena itu, mereka ingin menghadirkan karya yang tetap terasa alami dan apa adanya.

“Kami mengkurasi karya-karya dengan medium yang ada di jalan karena StayKool sendiri lahir dari seni jalanan. Semua yang terlihat dalam foto benar-benar merekam keseharian mereka saat berada di jalan,” tulis StayKool dalam keterangan pameran.

Melalui karya-karya tersebut, para seniman juga ingin menunjukkan bahwa seni jalanan bukan sekadar aksi vandalisme, melainkan bentuk kritik sosial dan cara menyampaikan keresahan terhadap kondisi sekitar.

Salah satu contoh yang diangkat adalah penggunaan papan rambu jalan yang sudah rusak dan berkarat sebagai medium karya. Seorang seniman mengungkapkan keresahannya dengan bahasa lugas.

“Wah, kudune plang sing wis karaten neng kene ra layak isih terpampang ning ndalan. Bayangna wong sing nduwe mripat minus, jarak pandang lumayan adoh, disuruh ndelok plang sing buram pa ya ketok?,” ujarnya. (Papan nama yang sudah berkarat tak layak terpampang, untuk yang bermata minus apakah ya bisa melihatnya?)

Seniman lain menimpali bahwa setelah papan tersebut dicopot dan dijadikan medium karya, pemerintah justru bergerak cepat menggantinya dengan yang baru.

“Jelas-jelas bar kita copot, rang dina papané diganti anyar. Lha wingi-wingi ngapa wae?!” katanya. (Baru kita lepas, dua hari papan diganti dengan yang baru.  Kemarin-kemarin ngapain aja?)

 

Bagi StayKool, fenomena tersebut membuktikan bahwa seni jalanan bisa menjadi bentuk protes yang efektif sekaligus refleksi atas kondisi sosial di sekitar masyarakat.

Komunitas StayKool sendiri terbentuk pada tahun 2020 dan digawangi tiga seniman jalanan dari latar Pendidikan yang berbeda, yakni CUPSER, REZK, dan KATE4. Mereka berangkat dari keresahan yang sama terhadap “kanvas” jalanan yang semakin padat oleh berbagai karya writer lain. Dari situ lahirlah nama StayKool, yang kerap diplesetkan menjadi berbagai istilah seperti StillKemproh, SakKecekele, hingga Selalu Kekancan.

Melalui pameran Dirty Look, Kool People, StayKool berharap masyarakat dapat melihat seni jalanan dari sudut pandang yang berbeda. Bahwa sesuatu yang tampak kotor belum tentu memiliki makna buruk.

“Kami mengajak orang melihat lebih dekat, mendengar lebih saksama, dan memahami bahwa di balik setiap goresan karat dan sudut jalan yang usang, ada suara yang layak didengar,” tulis mereka.  Bagi StayKool, seni jalanan bukanlah kekacauan, melainkan cara lain untuk mencatat zaman, papar salah satu penggagas pameran, Sugihartini  Mahasiswa tingkat akhir Jurusan Seni Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Universitas Negeri Yogyakarta.

Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan

Show More

Related Articles

Back to top button
-->