LAYANAN MADRASAHNewsNewspublic

MAN 4 Sleman Gempur Era Digital dengan IHT Bertema Guru Adaptif

Mengajar dengan nalar, Mendidik dengan Hati, Melangkah seiring Teknologi tanpa Kehilangan Jati Diri

Sleman – Di tengah derasnya arus digital yang mengubah cara belajar Generasi Alpha, MAN 4 Sleman tidak tinggal diam. Seluruh jajaran pendidik madrasah ini dikerahkan mengikuti In House Training (IHT) bertajuk “Membangun Guru Adaptif di Era Digital” selama dua hari, Kamis–Jumat (9–10/7/2026), di Aula 2 setempat.  Selain dua hari tatap muka juga dilanjutkan dengan Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Kegiatan berlangsung penuh semangat, dibuka langsung oleh Kepala MAN 4 Sleman, Drs. Ahmad Arif Makruf, M.A., M.Si.

Dalam sambutannya, Arif menegaskan bahwa guru masa kini tidak bisa lagi berkutat pada metode lama.
“Dunia berubah, pola hidup dan gaya belajar siswa Generasi Alpha juga berubah. Guru harus adaptif,” ujarnya tegas di hadapan para pendidik.

Ia pun mengingatkan bahwa peningkatan kompetensi guru adalah kunci utama agar pendidikan tidak tertinggal oleh zaman.

Untuk memastikan wawasan guru benar-benar terasah, panitia menghadirkan 3 narasumber kompeten di bidang kurikulum, psikologi pembelajaran, dan teknologi pendidikan.

Pemateri pertama, Dr. Nur Anisyah Rachmaningtyas, Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, membawakan materi berjudul “Mendesain Asesmen yang Selaras dengan Model Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)”.

Menurutnya, pembelajaran mendalam bukan sekadar transfer pengetahuan.
“Deep learning itu tentang kesadaran, makna, dan kebahagiaan dalam belajar. Siswa diajak mempraktikkan ilmu dalam kehidupan nyata, bukan hanya menghafal. Berpikir kritis adalah tujuannya,” terangnya.

Sesi kedua semakin menggelora dengan hadirnya motivator nasional, Nur Wahyudin Al-Azis,M.Pd. Dengan gaya khasnya, ia mengajak para guru untuk “Mengajar dengan Hati, Berkarya dengan Teknologi”.

Azis mengingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) kini bukan sekadar alat, melainkan telah menjadi “society” baru bagi manusia. Namun, ia menegaskan, peran guru tidak akan pernah tergantikan.

“AI bisa mengajar, tapi tidak bisa mendidik hati. Guru adalah pembangun optimisme, pemberi semangat, dan penanam kerja keras. Maka, bekerja harus totalitas, sepenuh hati,” ujarnya dengan penuh keyakinan.

Sesi penutup diisi oleh Pengawas Madrasah, Ida Uswatun Hasanah, yang menyampaikan materi “Mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dalam Penyusunan Modul Ajar”.   Ida menekankan bahwa cinta harus menjadi roh dari setiap proses pendidikan.

“KBC adalah jiwa dari seluruh penyelenggaraan pembelajaran nasional. Mulai dari intra, ko, ekstrakurikuler, hingga iklim madrasah, semuanya harus bernafaskan cinta,” paparnya.  Ia pun mengingatkan kembali lima pilar cinta yang wajib diintegrasikan: cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta ilmu, cinta lingkungan, cinta diri dan sesama, serta cinta tanah air.

IHT kali ini bukan sekadar pelatihan. Lebih dari itu, madrasah ingin menanamkan kesadaran bahwa guru di era digital adalah agen perubahan yang tangguh, berwawasan luas, dan berpijak pada nilai-nilai luhur.

Para guru MAN 4 Sleman pulang dengan energi baru: siap mengajar dengan nalar, mendidik dengan hati, dan melangkah seiring teknologi tanpa kehilangan jati diri.  (eds)

Show More

Related Articles

Back to top button
-->