NewsNews

Bentengi Murid Baru dari Radikalisme, MAN 4 Sleman Hadirkan Densus 88 Beri Edukasi Pencegahan

Muda - Cerdas - Moderat - Toleran - Santun

            Sleman (MAN 4 Sleman) – Upaya membangun generasi muda yang moderat, toleran, dan cinta damai terus dilakukan MAN 4 Sleman. Sebagai bagian dari rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Mata Muda) 2026, madrasah menghadirkan dua personel Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, Aipda Octaviani dan Brigpol Bayu A.T., untuk memberikan edukasi mengenai antisipasi paham radikalisme, Jumat (17/7/2026), di Aula 1 MAN 4 Sleman.

Di hadapan 180 murid baru, Brigpol Bayu menegaskan bahwa pembinaan ini merupakan langkah preventif untuk memperkuat ketahanan generasi muda terhadap berbagai paham yang mengancam persatuan bangsa.

“Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mencegah penyebaran intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET), termasuk maraknya konten kekerasan di ruang digital yang berpotensi menyasar anak-anak muda,” jelasnya.

Dalam pemaparannya, Bayu mengajak peserta memahami tiga istilah yang kerap disalahartikan, yaitu radikalisme, ekstremisme berbasis kekerasan, dan terorisme.

Ia menjelaskan, radikalisme merupakan paham yang menumbuhkan kebencian, menolak perbedaan, dan dapat mendorong seseorang melakukan tindakan kekerasan. Ekstremisme berbasis kekerasan adalah keyakinan yang menganggap kekerasan sebagai cara yang benar untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara itu, terorisme merupakan tindakan menggunakan kekerasan atau ancaman untuk menimbulkan rasa takut dan kepanikan demi mencapai kepentingan tertentu.

Menurut Bayu, perkembangan teknologi informasi membuat remaja menjadi kelompok yang rentan terpapar berbagai paham tersebut, terutama melalui media sosial dan platform digital.

“Banyak remaja yang tanpa sadar terpapar ideologi radikal melalui konten yang mereka lihat setiap hari di gawai. Karena itu, kemampuan menyaring informasi dan berpikir kritis menjadi sangat penting agar mereka tidak mudah terpengaruh,” tegasnya.

Ia menambahkan, paparan paham radikal juga dapat memengaruhi kondisi psikologis dan perilaku seseorang. Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain kecenderungan menarik diri dari lingkungan, mudah marah, sulit berkonsentrasi, mengalami stres, hingga menunjukkan sikap intoleran terhadap orang lain.

Untuk membentengi diri dari pengaruh tersebut, Brigpol Bayu membagikan enam langkah sederhana yang dapat diterapkan oleh para pelajar.

Pertama, berpikir kritis dengan tidak mudah mempercayai maupun menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Kedua, bijak menggunakan media sosial, yakni menghindari konten yang mengandung kebencian, provokasi, hoaks, maupun ajakan melakukan kekerasan.

Ketiga, memilih lingkungan pergaulan yang positif, dengan berteman bersama orang-orang yang memberikan pengaruh baik dan mendukung prestasi. Keempat, menghormati perbedaan, baik agama, suku, budaya, maupun pendapat sebagai wujud nyata semangat persatuan Indonesia.

Selanjutnya, ia mengajak para siswa mengisi waktu dengan kegiatan yang bermanfaat, seperti belajar, berolahraga, berorganisasi, berkesenian, maupun mengikuti kegiatan sosial. Menurutnya, aktivitas positif merupakan benteng yang efektif untuk menjauhkan remaja dari pengaruh negatif.

Terakhir, Bayu mengingatkan agar para siswa berani menolak dan melaporkan setiap ajakan yang mengarah pada penyebaran kebencian atau kekerasan.

“Jika ada ajakan bergabung dengan kelompok yang menyebarkan kebencian atau menghalalkan kekerasan, jangan ragu untuk menolaknya dan segera laporkan kepada guru, orang tua, atau pihak yang berwenang,” pesannya.

Menutup sesi, Brigpol Bayu mengingatkan bahwa menjaga Indonesia tetap aman merupakan tanggung jawab bersama.

“Mencegah radikalisme bukan hanya tugas aparat keamanan, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Generasi muda memiliki peran penting untuk menjadi pelopor toleransi, menjaga persatuan, dan menciptakan Indonesia yang damai,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, MAN 4 Sleman menegaskan komitmennya untuk tidak hanya mencetak peserta didik yang unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki karakter moderat, berpikiran terbuka, bijak bermedia digital, serta mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat.

(Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)

Show More

Related Articles

Back to top button
-->