ArticleNgajiReligi

Hijrah Pendidikan: Sebuah Renungan di Awal Tahun 1448 Hijriah

Hijrah Pendidikan: Sebuah Renungan di Awal Tahun 1448 Hijriah

Oleh: Dzulhaq Nurhadi

Setiap kali Tahun Baru Hijriah datang, kita diingatkan bahwa hijrah bukan hanya peristiwa sejarah yang dikenang setiap tahun. Hijrah adalah panggilan untuk bertanya kepada diri sendiri: apakah kita hari ini menjadi lebih baik dibandingkan kemarin?

Pertanyaan itu terasa semakin relevan ketika menengok dunia pendidikan. Dalam beberapa dekade terakhir, kita menyaksikan perubahan yang luar biasa. Teknologi berkembang sangat cepat. Informasi dapat diperoleh hanya dalam hitungan detik. Cara belajar anak-anak pun tidak lagi sama seperti dahulu.

Namun di tengah semua perubahan itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah kemajuan yang kita capai hari ini berjalan seiring dengan pertumbuhan karakter dan integritas generasi muda kita?

Pertanyaan tersebut tentu tidak lahir dari sikap pesimis. Justru sebaliknya. Kita melihat begitu banyak anak-anak Indonesia yang cerdas, kreatif, dan memiliki potensi luar biasa. Banyak di antara mereka mampu menguasai teknologi yang bahkan tidak pernah terbayangkan oleh generasi sebelumnya ketika masih duduk di bangku sekolah.

Tetapi pada saat yang sama, kita juga menyaksikan berbagai peristiwa yang mengundang keprihatinan. Berita tentang korupsi masih terus menghiasi ruang publik. Ketidakjujuran seakan menjadi sesuatu yang biasa. Perundungan masih terjadi di berbagai tempat. Media sosial sering kali dipenuhi pertengkaran dan saling merendahkan. Semua itu menghadirkan pertanyaan penting: di mana letak persoalannya?

Mungkin masalahnya bukan karena bangsa ini kekurangan orang pintar.

Mungkin yang sedang kita rindukan adalah hadirnya lebih banyak orang yang dapat dipercaya.

Banyak pendidik mungkin memiliki pengalaman yang sama ketika mengenang para murid yang pernah didampingi. Ada yang kini menjadi pengusaha, pegawai negeri, anggota TNI dan Polri, akademisi, maupun tokoh masyarakat. Dari perjalanan mereka, tampak bahwa keberhasilan hidup ternyata tidak selalu ditentukan oleh siapa yang memperoleh nilai tertinggi di kelas.

Sering kali yang bertahan dan berkembang justru mereka yang memiliki kedisiplinan, kejujuran, kemauan belajar, serta kemampuan menjaga amanah. Sebaliknya, kecerdasan yang tidak disertai integritas kerap kehilangan arah ketika berhadapan dengan berbagai godaan kehidupan.

Barangkali di sinilah makna hijrah pendidikan yang perlu kita renungkan bersama pada awal tahun 1448 Hijriah ini.

Selama bertahun-tahun, pendidikan sering kali diukur dengan angka-angka. Nilai ujian, peringkat, tingkat kelulusan, dan berbagai indikator lainnya tentu penting. Namun ada hal-hal yang tidak selalu dapat diukur dengan angka, padahal justru sangat menentukan masa depan seseorang: kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian terhadap sesama.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, kemampuan menghafal bukan lagi satu-satunya ukuran keunggulan. Mesin dapat menyimpan informasi jauh lebih banyak daripada manusia. Teknologi dapat menjawab pertanyaan dalam hitungan detik. Tetapi teknologi tidak memiliki hati nurani. Teknologi tidak mengenal rasa malu ketika berbuat salah. Teknologi tidak memahami makna amanah dan tanggung jawab.

Karena itu, semakin maju teknologi, semakin penting pula pendidikan karakter.

Tugas pendidikan pada masa depan bukan hanya mencetak generasi yang cerdas menggunakan teknologi, tetapi juga generasi yang bijaksana dalam menggunakannya. Generasi yang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, bukan hanya antara yang menguntungkan dan yang merugikan.

Di sinilah tampak peran penting madrasah dan seluruh lembaga pendidikan. Bukan semata-mata sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai ruang tumbuhnya manusia. Tempat di mana peserta didik belajar menjadi pribadi yang utuh; berilmu sekaligus berakhlak, berprestasi sekaligus rendah hati, memiliki cita-cita tinggi sekaligus kepedulian sosial yang kuat.

Tentu pekerjaan ini tidak dapat dibebankan kepada sekolah saja. Pendidikan karakter tidak lahir dari ceramah yang panjang, melainkan dari keteladanan yang terus-menerus hadir dalam kehidupan anak-anak. Mereka belajar dari apa yang mereka lihat pada guru, orang tua, pemimpin, dan masyarakat di sekelilingnya.

Karena itu, mungkin hijrah yang paling penting pada tahun ini bukanlah hijrah yang dilakukan oleh peserta didik semata, melainkan hijrah yang harus dilakukan oleh kita semua. Hijrah untuk menjadi teladan yang lebih baik. Hijrah untuk lebih jujur dalam pekerjaan. Hijrah untuk lebih bertanggung jawab terhadap amanah yang dipercayakan kepada kita. Hijrah untuk menempatkan nilai-nilai moral di atas kepentingan sesaat.

Kita patut meyakini bahwa masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak orang pintar yang berhasil dilahirkan. Masa depan bangsa ini juga ditentukan oleh seberapa banyak orang yang tetap memegang teguh kejujuran ketika memiliki kesempatan untuk berbuat sebaliknya; seberapa banyak orang yang tetap menjaga amanah ketika memiliki kekuasaan; dan seberapa banyak orang yang memilih memberi manfaat bagi sesama.

Mungkin hasil dari pendidikan yang ditanam hari ini tidak langsung terlihat besok atau lusa. Seperti seorang petani yang menanam benih, kita sering kali harus menunggu bertahun-tahun untuk melihat hasilnya. Namun sejarah mengajarkan bahwa tidak ada peradaban yang besar tanpa pendidikan yang baik, dan tidak ada pendidikan yang baik tanpa manusia-manusia yang berintegritas.

Di awal Tahun Baru Hijriah 1448 H ini, kita memiliki alasan untuk tetap optimis. Masih banyak guru yang mengajar dengan hati. Masih banyak orang tua yang berjuang demi pendidikan anak-anaknya. Masih banyak generasi muda yang memiliki semangat untuk menjadi lebih baik.

Semoga semangat hijrah tidak berhenti sebagai peringatan tahunan. Semoga ia menjadi energi untuk terus memperbaiki diri, memperbaiki pendidikan, dan pada akhirnya ikut memperbaiki kehidupan bangsa yang kita cintai bersama.

Selamat Tahun Baru Hijriah 1448 H. Semoga setiap langkah hijrah yang kita lakukan, sekecil apa pun, menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi yang berilmu, berakhlak, dan berintegritas.

 

Show More

Related Articles

Back to top button
-->